Pemeliharaan Rutin Probe pH

Maintenance elektroda/probe perlu dilakukan karena bertujuan untuk membersihkan probe dari berbagai pengotor dan menjaga agar waktu respon tetap baik dan stabil serta lifetime probe tidak bertambah cepat . Membersihkan probe biasanya hanya menggunakan air destilat/akuades saja, padahal membersihkan sesuai dengan sampel juga dianjurkan.

Adanya pengotor yang masih tertinggal di bulb glass ataupun jembatan garam dapat memperlambat kerja probe. Air destilat hanya membersihkan sisa sampel yang larut dalam air, akan tetapi tidak mampu melarutkan senyawa lain seperti minyak, protein atau pelarut organik. Berikut adalah beberapa cara untuk membersihkan elektroda dengan larutan yang sesuai.

Jenis-jenis tipe sampel dan Langkah-Langkah Membersihkan :

1. Sampel Berbahan Kimia Anorganik
– Bilas probe yang telah digunakan untuk sampel asam atau basa dengan air kran biasa
– Rendam menggunakan phosphoric-acid selama 5 menit lalu rendam kembali dalam larutan detergent selama 10 menit
– Bilas menggunakan air destilat kemudian keringkan menggunakan tissu kering

2. Sampel Berbahan Kimia Organik
– Bilas probe bersampel bahan organik atau pelarut organik dengan aseton kemudian bilas dengan etanol. Bilas kembali menggunakan air kran
– Tempatkan probe dalam larutan detergent selama 10 menit
– Cuci dengan air destilat dan keringkan

3. Kontaminasi Sulfida
– Cuci terlebih dahulu dengan air kran dan keringkan
– Tempatkan probe selama 20-30 menit dalam larutan thio-urea
– Kemudian rendam dalam larutan detergent selama 10 menit
– Cuci dengan air destilat dan keringkan
– Untuk jenis probe yang refill, ganti cairan elektrolit dengan cairan yang fresh

4. Minyak/Lemak
– Rendam probe selama 10-20 menit dalam larutan detergent hangat (40 oC)
– Kemudian segera bilas menggunakan aseton lalu etanol
– Cuci menggunakan air destilat dan keringkan

5. Protein
– Tempatkan probe selama 10 menit dalam larutan pepsin-dalam-HCl
– Kemudian 1 menit dalam larutan thio-urea
– Cuci menggunakan air destilat dan keringkan

6. Air limbah dan lumpur
– Bersihkan kontaminan dengan membilas menggunakan air hangat (40 oC)
– Tempatkan probe dalam larutan hypochlorite selama 5 menit
– Kemudian rendam pepsin dalam HCl 5 menit dan larutan detergent 10 menit
– Cuci menggunakan air destilat dan keringkan
– Lalu cek apakah glass bulb dan diaphragm telah bersih

7. Sampel yang mengandung biakan mikroba (Biological growth)
– Terlebih dahulu rendam di larutan pepsin dalam HCl selama 10 menit
– Kemudian rendam lagi dalam larutan thio-urea selama 1 menit
– Cuci menggunakan air destilat lalu keringkan

8. Sampel yang mengandung desinfektan
– Tempatkan dalam larutan 3% hidrogen peroksida (H2O2) selama 10-20 menit
– Kemudian bilas dengan air destilat dan cek kalibrasi

Penyimpanan probe pH juga penting diperhatikan, sebaiknya untuk penyimpanan jangka waktu lama maupun cepat disimpan dalam larutan penyimpan yaitu larutan KCL. Posisi peletakan probe dalam kondisi tegak (tidak mendatar) untuk menghindari terjadinya kristal di badan probe.

Bila probe merupakan jenis refillable, maka penggantian elektrolit harus sering dilakukan agar performa dan nilai slope dari probe tetap terjaga.

sumber : www.hach-lange.com (diakses 20 Januari 2016)

Gallery Installation part-1 : Turbidimeter, Chlorine Analyzer dan Oil in Water Analyzer

Kebutuhan monitoring parameter di plant industri akan lebih dipermudah dengan adanya “alat proses”. Alat ini mampu memantau data parameter secara real time dan continue. Alat proses terdapat beberapa tipe yang berbeda bergantung pada jenis parameter yang dianalisa. Diantaranya untuk paramater turbid, pH, conductivity, TSS, DO, Amonia, Nitrat, Ozon, Oil in water dan UV254 terdiri dari controller (meter) dan sensor. Jenis alat proses terdapat pula yang berdiri sendiri, seperti untuk parameter chlorine, silica, sodium, alkalinity, hardness, dan TOC.

Untuk pemasangan alat proses dapat dilakukan didalam ruang ataupun diluar sesuai dengan lokasi plant.

Beberapa contoh Instalasi Alat Proses

1.Indoor

Turdidimeter Analyzer, 1720E

Gambar 1. Turbidimeter Analyzer, 1720E dan Controller, SC200

contoh_instal_cl17

Gambar 2. Chlorine Analyzer, CL17

2.Outdoor

contoh_oil_in_waterGambar 3. Oil in Water, FP360sc dan Controller, SC200.

sumber dan referensi :

www.saka.co.id

www.hachindonesia.com

www.hach.com

Kriteria Elektroda pH

Teori pH

PH terdiri dari huruf “p” dan “H” yang berarti “Power of Hydrogen”. Dalam larutan berair mengandung banyak molekul H2O yang merupakan kombinasi dari ion hidrogen dan ion hidroksida. pH menggambarkan banyaknya aktifitas ion hidrogen dan ion hidroksida dalam suatu larutan berair. pH juga menjelaskan bahwa larutan tersebut bersifat asam ataupun basa. Bilamana aktifitas ion hidrogen meningkat maka pH akan menurun, larutan bersifat asam. Sedangkan larutan bersifat basa atau alkali, dimana aktifitas ion hidroksida meningkat dan nilai pH menjadi meningkat.

Pengukuran pH

Pengukuran pH dilakukan dengan metode potensiometri menggunakan elektroda, yang sering disebut pH meter dan probe. Elektroda pH (Gambar 1) bekerja dengan adanya kerjasama antara eletroda reference dan eletroda Hidrogen (ISE) atau elektroda working. Selain ini komponen dari eletroda pH terdiri dari elektroda body, larutan elektrolit, reference junction (jembatan garam) dan pH-sensing bulb (membran sensor).

Gambar 1. Komponen Elektroda pH

Material dari komponen elektroda tersebut akan berbeda antara eletroda satu dengan lainnya karena menyesuaikan sifat larutan sampel yang akan diukur.

Jenis sampel menentukan tipe elektroda yang digunakan. Tiap sampel memiliki karakteristik sifat yang berbeda-beda, diantaranya memiliki sifat viscous, mengandung alkali atau asam yang berlebih, maupun memiliki sifat ionik yang sangat rendah.
Memilih Elektroda yang Sesuai

Komponen elektroda yang penting untuk dicermati sebelum memilih elektroda yang tepat adalah

a. Bodi Elektroda
Terdapat 2 jenis bahan untuk bodi elektroda yaitu glass dan epoxy. Bahan glass biasa digunakan di semua jenis sampel, baik dipilih apabila sampel mengandung solvent/pelarut. Untuk elektroda berbahan epoxy atau plastik, lebih rugged sehingga dapat digunakan untuk aplikasi di laboratorium maupun lapangan

b. Reference Electrolyte
Reference electrolyte adalah larutan elektrolit berupa KCl yang sengaja diisikan ke bodi dalam elektroda sebagai reference. Terdapat 3 bentuk elektrolit yaitu liquid, yang dapat direfil ke elektrode apabila sudah habis atau dibersihkan. Elektrolit liquid bisa digunakan untuk semua sampel, karena bentuknya yang cair maka sesuai untuk jenis sampel yang ekstrem seperti untuk sampel viscous, memiliki sifat ionik rendah maupun tinggi, sampel tanah atau limbah dan sampel-sampel sulit lainnya. Jenis elektrolit ini memiliki respon yang cepat.

Kemudian elektrolit gel dan polimer. Kedua jenis elektrolit ini tidak seperti liquid yang memiliki outflow yang tinggi, elektrolit gel dan polimer lebih mudah dimaintenance karena tidak perlu refill, akan tetapi memiliki lifetime yang singkat. Untuk aplikasi lebih baik digunakan untuk kebutuhan pengecekan sampel air.

c. Reference Junction
Reference junction atau jembatan garam merupakan tempat kontak elektrik antara sistem reference dengan larutan sampel. (Tabel 1)

Tabel 1. Tipe Bentuk Reference Junction (Salt Bridge)

d. Membran Sensor (pH-Sensing bulb)

Membran sensor adalah lapisan gel di bagian dalam dan luar bulb, lapisan ini sangat tipis. Membran ini berfungsi sebagai tempat pertukaran ion hidrogen dari dalam layer dengan ion hidrogen dari sampel. Membran sensor memiliki beberapa bentuk yang menyesuaikan bentuk sampel. (Tabel 2)

Tabel 2. Tipe-tipe Bentuk Membran sensor

e. Jenis Elektroda (Kombinasi atau Diferensiasi)

Jenis eletroda yaitu elektroda kombinasi atau eletroda diferensiasi, dimana kombinasi adalah eletroda reference dan elektroda working terdapat dalam 1 bodi elektroda, sedangkan diferensiasi dibutuhkan 2 elektroda yang terpisah.

Beberapa principle memiliki tipe elektroda pH yang dapat digunakan untuk pengukuran pH sampel, yang telah disesuaikan bentuk dan karakteristiknya dengan beberapa jenis sampel.

Daftar Pustaka

Thermo Scientific : Thermo Scientific pH Electrode Handbook. www.thermoscientific.com (diakses 26 Oktober 2015)

YSI Laboratory : The pH Handbook a Practical Guide to pH Measurement. ysi.com/ysi-blog (diakses 26 Oktober 2015)

Deteksi Korosi Akibat Oksigen Sedini Mungkin

Salah satu faktor penyebab korosi adalah oksigen, sehingga parameter ini sebaiknya dimonitoring dan dikontrol keberadaannya di kebanyakan Industri Energi. Pada industri energi yang memiliki steam generator (boiler), korosi menjadi masalah yang lazim terjadi. Untuk air sumber yang nantinya masuk ke boiler bisa berasal dari air alam, air tersebut bisa jadi memiliki kontaminan seperti padatan terlarut, gas terlarut, padatan tersuspensi dan mikroorganisme. Gas yang terlarut berupa salah satunya oksigen. Korosi oleh oksigen terjadi karena peristiwa oksidasi. Korosi pada pipa boiler tersebut dapat menyebabkan kebocoran pipa akibat keretakan.

Peristiwa korosi yang terjadi pada boiler, dimana air dalam boiler akan memiliki temperatur sangat tinggi sesuai dengan jenis boiler yang digunakan. Air yang berada pada temperatur tinggi akan memiliki sifat-sifat yang sangat berbeda dengan air pada temperatur ruang. Pada temperatur di atas temperatur kritisnya, air akan menjadi lebih mudah melarutkan berbagai macam zat yang bahkan sebelumnya tidak mudah larut. Hal ini diakibatkan karena pada temperatur tersebut air lebih mudah terionisasi dan pecah membentuk ion-ion H3O+ dan OH-. Faktor inilah yang semakin mendorong terjadinya korosi pada pipa-pipa boiler. Korosi pada pipa-pipa boiler melibatkan atom Fe yang mengalami kontak dengan air sehingga teroksidasi membentuk kation Fe2+ dengan jalan melepaskan dua elektronnya. Elektron-elektron tersebut selanjutnya akan mereduksi atom oksigen dan bereaksi dengan air membentuk ion hidroksida.

Tapi apabila level oksigen terjaga maka kemungkinan untuk korosi dapat berkurang. Kondisi dimana kekurangan oksigen, atau biasa disebut dengan anaerobik, ferro hidroksida(Fe(OH)2) dapat teroksidasi lebih lanjut untuk membentuk lapisan magnetit (Fe3O4) yang justru bermanfaat bagi boiler untuk mencegah korosi yang lebih parah.

Level oksigen sebaiknya dibatasi pada range ≤ 0.02 mg/L dan untuk tekanan tinggi ≤ 0.005 mg/L

Semoga bermanfaat ^_^

Pengaruh Ukuran Partikel di Dalam Kosmetik-Part 1-

Kosmetik tersedia dalam berbagai suspensi seperti emulsi, gel, lotion, atau krim yang mengandung partikel. Ukuran partikel dalam kosmetik menentukan keseluruhan fungsi, stabilitas dan sensitivitas pada kulit. “pearlescent pigment” meerupakan salah satu bahan baku kosmetik, yang digunakan untuk memberikan efek lembut sampai dengan glitter.

“Pearlescent pigment” merupakan pigment yang dilapisi oleh nanomaterial seperti titanium oksida atau besi oksida. Ukuran partikel dari nano material memberikan efek dari kosmetik yang dihasilkan. Partikel dengan ukuran <25μm dapat memberikan efek lembut, partikel yang lebih besar 20-150μm memberikan efek mengkilap, partikel 20-25μm menghasilkan efek bercahaya, dan untuk partikel 50-500 μm memberikan efek bahan yang mudah menyerap pada kulit. Ketepatan warna pada lipstick bergantung dari distribusi ukuran partikel dari pigment pada lipstick, tidak hanya itu tingkat kepadatan dan mengkilapnya suatu lipstick juga di pengaruhi oleh ukuran partikel , semakin padat bentuk lipstick maka semakin besar penyebaran distribusi partikel nya. Ukuran partikel pada pigment juga berpengaruh pada ketahan warna lipstick pada saat digunakan Sedangkan pada mascara diameter partikel mempengaruhi kegelapan dan kemampuan terdispersi ketika dicampur dengan resin. jadi ukuran partikel sangat berpengaruh terhadap kualitas suatu produk ^_^

Komponen “Penting” Rotary Evaporator

Rotary Evaporator adalah instrumen dengan desain khusus untuk menguapkan pelarut pada kondisi vakum. Rotary evaporator terdiri dari heating bath dengan rotating flask yang mana cairan didistribusikan melalui penguapan. Biasanya proses evaporasi dipengaruhi oleh temperatur heating bath, ukuran flask, temperatur distilasi dan kecepatan rotasi.
Berdasarkan prinsipnya kerjanya, komponen “Penting” rotary evaporator memiliki fungsinya masing-masing yaitu:
1.Sistem evaporasi (heating bath), pada bagian ini pelarut dipanaskan. Lapisan film tipis dari pelarut terbentuk pada permukaan dalam rotating flask, yang menghasilkan evaporasi yang tinggi. Adanya rotasi memastikan cairan didalamnya dalam kondisi selalu homogen dan mencegah overheting didalam flask.

2.Sistem rotasi (rotary drive), pada bagian ini sistem rotasi akan secara konstan menjaga pergerakan rotasi dari evaporating flask selama proses destilasi berlangsung.

3.Sistem kondensasi (condensation part), pada sistem ini pelarut menguap dengan kecepatan tinggi melewati kondensasi flask dari alat rotary evaporator. Pada titik ini energi didalam pelarut ditransfer ke medium pendingin (biasanya air) dan pelarut menjadi terkondensasi. Kondensasi pelarut mengalir karena adanya gaya gravitasi di dalam labu penampung (receiving flask)

4.Labu penampung (receiving flask), Labu ini digunakan untuk mengumpulkan/menampung hasil kondensasi pelarut

5.Vakum, kondisi vakum digunakan untuk menurunkan temperatur didih dan menjaga efisiensi proses destilasi

Rotary evaporator tersusun dari komponen-komponen diatas, yang dalam penyusunannya terdapat beberapa tipe sesuai dengan pengaplikasiannya, dan yang paling penting perannya adalah bentuk kondensor. Diantaranya :

kondensor_tipe_APenyusunan seperti gambar disamping dengan kondenser diagonal, sesuai untuk destilasi pelarut, mengetahui konsentrasi larutan atau suspensi dengan pemekatan, pengeringan powder atau granule dan perlakuan awal proses kristalisasi

 

kondensor_tipe_V Penyusunan dengan kondensor vertikal bisa menghemat tempat, desain ini sama seperti bentuk diatasnya, yaitu digunakan untuk aplikasi : destilasi pelarut, mengetahui konsentrasi larutan atau suspensi dengan pemekatan, pengeringan powder atau granul dan perlakuan awal proses kristalisasi

kondensor_tipe_C

Kondensor diganti dengan cold trap sehingga destilator ini bisa digunakan untuk aplikasi dengan temperatur sangat rendah. Biasanya digunakan jika pelarut mudah menguap atau memiliki titik didih rendah, seperti kloroform atau diklorometana. Pada Cold Trap biasanya dimasukkan campuran seperti, es kering/acetone (-70oC), garam es (-20oC) atau nitrogen cair (-190oC). Aplikasi yang sesuai:
- Destilasi pelarut
- Mengetahui konsentrasi larutan atau suspensi dengan pemekatan
- Pengeringan powder atau granul
- Perlakuan awal proses kristalisasi
- Sublimasi

kondensor_tipe_S
Aparatus ini sesuai untuk reaksi menggunakan refluks dan untuk destilasi sesuai untuk pelarut yang memiliki titik didih tinggi, seperti toluena dan air. Bisa juga digunakan untuk ektraksi menggunakan soklet. Aplikasi :

                  - Destilasi pelarut
                  - Mengetahui konsentrasi larutan atau suspensi dengan pemekatan
                  - Pengeringan powder atau granul
                  - Perlakuan awal proses kristalisasi
                  - Ekstraksi sokhlet
                  - Sintesis kimia
kondensor_tipe_E
Kondenser dengan bentuk seperti gambar (descending), bisa digunakan untuk destilasi pelarut dengan panas penguapan yg rendah, produk yang menghasilkan foam(busa) yg tinggi, dan untuk mendapatkan kembali pelarut (recovery). Aplikasi :

                  - Destilasi pelarut
                  - Mengetahui konsentrasi larutan atau suspensi dengan pemekatan
                  - Pengeringan powder atau granul
                  - Perlakuan awal proses kristalisasi

kondensor_tipe_CR
Aparatus ini juga menggunakan cold trap untuk menjaga temperatur tetap rendah (beku). Dengan begitu tidak dibutuhkan aliran air sehingga hemat. Pada Cold Trap biasanya dimasukkan campuran seperti, es kering/acetone (-70oC), garam es (-20oC) atau nitrogen cair (-190oC). Aplikasi yang sesuai:
                - Destilasi pelarut
                - Mengetahui konsentrasi larutan atau suspensi dengan pemekatan
                - Pengeringan powder atau granul
                - Perlakuan awal proses kristalisasi
                - Sintesis kimia
                - Ekstraksi menggunakan sokhlet
                - Sublimasi

 
sumber = Hoegger, Rosemary. 1998. Distillation with a Rotary Evaporator. Buchi Training Papers

Analisa Kimia

Analisa Kimia atau yang sering di kenal dengan kimia analisis merupakan cabang ilmu kimia yang berfokus pada analisis cuplikan material untuk mengetahui komposisi, struktur, dan fungsi kimiawinya. Seacar umum, kimia analisa dibagi menjadi dua jenis, kualitatif dan kuantitatif. Analisa kualitatif bertujuan untuk mengetahui keberadaan suatu unsur atau senyawa kimia, baik organik maupun inorganik, sedangkan analisa kuantitatif bertujuan untuk mengetahui jumlah suatu unsur atau senyawa dalam suatu cuplikan (http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_analisis). Meskipun sekarang banyak cabang analisa kimia, namun analisa kulaitatif dan kuanitaif tradisional merupakan sumber dari dari analisa modern dan instrumen kimia modern yang saat ini banyak digunakan

Syarat Pelarut yang Sesuai untuk Ekstraksi

Isolasi minyak atsiri menggunakan metode ekstraksi, membutuhkan pelarut untuk menunjang kerjanya. Pelarut yang sesuai dapat menghasilkan minyak dengan kandungan rendemen dan mutu yang baik. Prinsip ekstraksi adalah melarutkan minyak atsiri dalam bahan dengan pelarut organik yang mudah menguap. Proses ekstraksi biasanya dilakukan dalam wadah yang disebut ”extractor”. Ekstraksi dengan pelarut organik umumnya digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan dengan uap dan air, terutama untuk mengekstrak minyak dari bunga-bungaan misalnya bunga cempaka, melati, mawar, kenanga, lily, dan lain-lain. Pelarut yang biasanya digunakan dalam ekstraksi yaitu: petroleum eter, benzena, dan alkohol.

Syarat pelarut yang digunakan (Guenther,1987) sebagai berikut:

  1. Harus dapat melarutkan semua zat wangi bunga dengan cepat dan sempurna, dan sedikit mungkin melarutkan bahan seperti: lilin, pigmen, serta pelarut harus bersifat selektif.
  2. Harus mempunyai titik didih yang cukup rendah, agar pelarut mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi.
  3. Pelarut tidak boleh larut dalam air.
  4. Pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan komponen minyak atsiri dari tanaman.
  5. Pelarut harus mempunyai titik didih yang seragam, dan jika diuapkan tidak akan tertinggal dalam minyak.
  6. Harga pelarut harus serendah mungkin dan tidak mudah terbakar

Macam-macam Pelarut : (Tabel 1)

tabel pelarut

 

Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang bersifat non polar yang mampu melarutkan minyak atsiri dari kelenjar minyak tumbuhan, karena minyak bersifat non polar. Selain itu campuran (pelarut dan minyak atsiri) tidak akan larut dengan air dalam proses isolasi. Pelarut akan mudah dipisahkan dari minyak atsiri karena memiliki suhu yang rendah sehingga akan menguap saat proses evaporasi.

Sumber :

Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri Jilid 1. UI Press. Jakarta
Saputra, S. 2013. Ekstraksi dengan Pelaruthttp://satriyasaputra.blogspot.com/2013/09/ektraksi-dengan-pelarut.html (diakses tanggal 17 November 2014)

 

erlenmeyer

Perlakuan Bahan Sebelum Diisolasi

Minyak atsiri dapat diperoleh dari berbagai macam tumbuh-tumbuhan, meliputi bagian akar, batang, daun maupun bunga. Minyak atsiri ini terdapat pada kelenjar minyak pada bagian tumbuhan, agar minyak yang diinginkan dapat optimal diperoleh maka bahan baku harus diperlakukan terlebih dahulu. Kelenjar minyak pada tumbuhan dibebaskan dapat dengan cara merajang/memotong jaringan tanaman dan mengeringkan atau pelayuan bahan. Proses pengecilan ukuran dan pengeringan bahan berminyak yang bersifat permiabel (mudah ditembus zat cair dan uap) dilakukan dengan tujuan untuk mengisolasi minyak dalam waktu yang relatif singkat. (2)

Cara merajang/memotong

Cara ini yaitu mengecilkan ukuran bahan yang dapat membuka kelenjar minyak sebanyak mungkin, sehingga minyak dapat dengan mudah diiuapkan (karena minyak atsiri mudah menguap)(1) dan laju penguapan minyak atsiri dari bahan menjadi cukup cepat. Selama proses perajangan akan terjadi penguapan komponen minyak bertitik didih rendah. Oleh karena itu jika menginginkan rendemen dan mutu minyak yang baik, maka hasil rajangan harus segera diekstraksi. (2)

Cara pengeringan/pelayuan

Perlakuan pendahuluan dengan cara pengeringan bahan juga dapat digunakan untuk mempercepat proses isolasi minyak atsiri, memperbaiki mutu minyak dan mengurangi kadar air yang terkandung dalam bahan. Akan tetapi cara ini memiliki kelemahan yaitu selama pengeringan kemungkinan sebagian minyak akan hilang karena penguapan dan oksidasi oleh oksigen di udara.(2) Disarankan untuk pengeringan bisa menggunakan vacuum oven untuk mencegah teroksidasi dengan udara. (WS)

sumber :

(1)Munawaroh, S dan Handayani, P.A. 2010.Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut(Citrus hystrix D.C.)  Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana.Jurnal Kompetensi Teknik (2):1
(2)Ketaren, S. 1985.Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka. Jakarta


	

Metode Destilasi Uap

Destilasi merupakan pemisahan didasarkan pada perbedaan titik didih atau titik cair dari masing-masing zat penyusun pada campuran homogen.  Proses destilasi terbagi menajadi 2 tahap , tahap ertama merupakan tahap penguapan, dan tahap ke dua merupakan tahap pendinginan, maka dengan itu pada alat destilasi terdapat alat pemanas dan alat pendingin. Destilasi terdiri dari beberapa jenis yaitu : destilasi sederhana, destilasi fraksionasi, destilasi azotrop, destilasi vakum, destilasi uap, dan destilasi kering.

Pada pemisahan minyak atsiri sistem destilasi yang paling banyak di gunakan adalah destilasi uap. Destilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yangmemiliki titik didih mencapai 200 °C atau lebih. Distilasi uap dapatmenguapkan senyawa-senyawa ini dengan suhu mendekati 100 °C dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau air mendidih.

destilasi1

Peralatan dan Bahan :

Bahan : Sampel, pelarut, air

Peralatan : 1.Kran air 2.Pipa penghubung 3.Erlenmeyer 4.Termometer 5.Statif dan Klem 6.Labu alas bulat 7.Tempat air keluar dari kondensor 8.Tempat air masuk pada kondensor 9.Pemanas 10.Kondensor, 11. batu didih

boiling-flask-leher-2
Boiling Flask Berleher
statif1
Statif
termometer
Termometer
kondensor1
Kondensor

 

 

 

 

 

 

 

 

 

hot-plate
Hot Plate
erlenmeyer
Erlenmeyer