Bahan Tambahan Makanan yang Dilarang Penggunaannya

Formalin

Formalin adalah nama dagang dari larutan formaldehida dalam air dengan kadar 30-40%. Formalin biasanya mengandung alkohol 10-15% yang berfungsi sebagai stabilator agar formaldehida tidak mengalami polimerisasi.

Umumnya, formalin banyak digunakan di bidang kedokteran, seperti mengawetkan mayat atau organ tubuh. Formalin biasanya juga digunakan untuk membunuh bakteri pembusuk dan mengawetkan jasad renik, seperti serangga untuk disimpan dalam museum biologi.

Kemudian formalin banyak disalahgunakan sebagai bahan pengawet makanan yang jelas berbahaya bagi tubuh manusia karena bersifat karsinogen (menyebabkan kanker), mutagen (menyebabkan peubahan sel dan jaringan tubuh). Fomalin bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran penapasan. Di dalam tubuh cepat teroksidasi menjadi asam format terutama di hati dan di sel darah merah. Hal ini ditandai dengan sakit perut akut ditandai dengan muntah-muntah, timbulnya depresi susunan saraf, atau kegagalan peredaran darah yang dapat berakhir pada kematian.

Selain karena untuk kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/ Per/IX/88 menentukan bahwa formalin adalah salah satu bahan yang dilarang keberadaannya dalam makanan, sehingga analisis formalin menjadi sangat penting untuk dilakukan. Analisis formalin dapat dilakukan dengan metode enzimatis secara fluorimetri, HPLC, GC dan spektrofotometri. Dari semua metode yang telah disebutkan, metode spektrofotometri adalah metode yang paling direkomendasikan karena mudah dilakukan. Umumnya, prinsip yang terjadi dalam metode spektrofotometri ini adalah dengan mereaksikan formalin dengan alkanon dalam media garam asetat sehingga terbentuk senyawa kompleks berwarna kuning dan diuji pada gelombang sepanjang 410 nm.

Boraks

Boraks atau lebih dikenal dengan sebutan “bleng” merupakan kristal lunak berupa garam natrium yang mengandung unsur boron ,Na2B4O7.10H2O yang mudah larut dalam air. Boraks digunakan dalam industri non pangan, seperti industri kertas, pengawet kayu, keramik, dan gelas. Gelas pyrex yang telah banyak dikenal juga dibuat dengan campuran boraks, dengan tujuan menghaluskan permukaan gelas.

Penyalahgunaan boraks sering terjadi karena senyawa ini biasa memperbaiki tekstur, sehingga menghasilkan rupa yang bagus, lebih kenyal, dan lebih renyah. Mengkomsumsi boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, namun sifatnya terakumulasi dalam organ hati, otak, dan ginjal. Jika komsumsi terjadi dalam jumlah yang tinggi, boraks dapat menyebabkan apatis, sianosis, depresi, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, koma, bahkan kematian.

Sama seperti halnya dengan formalin, selain karena untuk kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/ Per/IX/88 menentukan bahwa boraks juga adalah salah satu bahan yang dilarang keberadaannya dalam makanan, sehingga analisis boraks menjadi sangat penting untuk dilakukan. Analisis boraks dapat dilakukan dengan menggunakan metode titrasi dan metode spektrofotometri.

Zat Pewarna

Rhodamin B (pemberi warna merah) dan metanil yellow (pemberi warna kuning) adalah pewarna yang digunakan dalam industry tekstil, plastik, cat, dan lain-lain. Zat-zat warna ini seringkali disalahgunakan untuk memberikan warna yang menarik pada makanan.

Telah terbukti bahwa rhodamin B dan metanil yellow ini dapat menyebabkan kanker, namun gejalanya tidak dapat langsung terlihat setelah mengkomsumsi. Oleh karena itu, Pemenkes RI No.235/Menkes/Per/VI/79 telah menyatakan bahwa rhodamin B dan metanil yellow dilarang digunakan di dalam makanan walaupun dalam jumlah sedikit. Analisis zat-zat pewarna dapat menggunakan metode kromatografi atau spektrofotometri.

Sumber: Teknologi Pengolahan dan Pengawetan Makanan, dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>